CLINTON UNGGULI SANDERS

CLINTON UNGGULI SANDERS

MANTAN Menteri Luar Negeri Hillary Clinton memastikan memperoleh dukungan menjadi calon presiden dari Partai Demokrat setelah memenangi pemilihan umum pendahuluan di enam negara bagian pada Selasa pekan lalu. Hasil ini menjadikannya perempuan pertama dalam 240 tahun sejarah Amerika Serikat yang bisa mengantongi tiket pencalonan sebuah partai politik besar. Keunggulan atas pesaingnya, Bernie Sanders, itu dicapai setelah Clinton memenangi pemilu pendahuluan di New Mexico, North Dakota, South Dakota, Montana, New Jersey, dan California. Di negara bagian yang disebut terakhir, yang terbesar di Amerika dan yang merupakan target lawannya, dia mendulang 56 persen suara.

Dengan kemenangannya sejauh ini, dia sudah mengumpulkan 2.777 suara (dari minimal 2.383 suara)—sementara Sanders mengumpulkan 1.828 suara. ”Berkat kalian, kita mencapai sebuah tonggak, pertama kali dalam sejarah negara kita seorang perempuan akan menjadi kandidat sebuah partai besar,” katanya dalam sebuah pawai di New York, seperti dikutip The Washington Post. California merupakan kemenangan terpenting. Sebagai negara bagian paling beragam asal-usul penduduknya, California tak hanya merupakan sumber dukungan dan keuangan Partai Demokrat, tapi juga ujian simbolis bagi kemampuan komunikasi Clinton.

Dia menggunakan waktu kurang dari seminggu yang ada untuk maraton berkampanye. Kemenangan Clinton itu rupanya tak mengendurkan semangat Sanders. ”Perjuangan akan jalan terus,” ujarnya. Dia bertekad maju terus sampai konvensi partai pada 25 Juli mendatang. Pekan depan, pemilihan pendahuluan masih akan berlangsung di Washington, DC. MAHASISWA ANCAM LANJUTKAN DEMO PEMIMPIN demonstrasi mahasiswa yang menuntut Perdana Menteri Papua Nugini Peter O’Neill mengundurkan diri, Noel Anjo, bertekad mengabaikan perintah pengadilan.

”Mahasiswa tak akan menyerah sampai dan kecuali Perdana Menteri mengundurkan diri atau menyerahkan diri kepada polisi dan ditahan dan didakwa. Perjuangan akan jalan terus,” katanya kepada Reuters, Kamis pekan lalu. Menurut laporan BBC pada hari itu, perintah tersebut meminta University of Papua New Guinea menghentikan aksi protes yang melibatkan mahasiswanya. Perintah ini dikeluarkan setelah demonstrasi pada hari itu menimbulkan bentrokan sehingga 23 orang terluka.

Polisi terpaksa menembakkan senjata ketika rombongan demonstran berpawai dari kampus menuju gedung parlemen di Port Moresby. Bersamaan dengan perintah itu, pengadilan juga melarang mahasiswa memboikot kuliah. Sudah berlangsung lima pekan terakhir, boikot ini merupakan bagian dari protes mahasiswa untuk menuntut O’Neill.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *